Sabtu, 08 Februari 2020

Harmony 1. Alden Nicholas Grahasa


1. Alden Nicholas Grahasa
Copyright by Poppi Pertiwi




Langit menapak senja. Sebentar lagi akan malam. Seorang anak laki-laki dengan kaus doplang dan kedua lengan berotot saat ini sibuk bermain di lapangan rumahnya dan memasukan bola basketnya ke dalam ring menggunakan tangan juga rumus Fisika di otaknya tadi.

"Orang gila mana yang mau nempatin rumah berhantu kaya gitu?" tanya Alden berhenti sambil menoleh dan mendribble bola basketnya.

Lalu ia melihat Flora turun. Alden terbelalak. Cewek itu?

****
Butuh waktu lama dari hari Senin menuju ke hari Minggu. Sementara hanya butuh waktu sebentar agar hari Minggu berubah menjadi hari Senin. Benar-benar tidak adil. Sekolah harus tepat waktu, tugas menumpuk, kerja kelompok terus, ulangan yang dipelajari apa yang keluar apa. Benar-benar belajar seperti robot.

"Dunia itu luas orangnya juga banyak tapi kenapa ya gue gak ketemu-ketemu sama jodoh gue?" tanya Flora merenung. Salah satu problematika cewek.

"Makanya cari. Jangan diem aja. Kalau nunggu jodoh jatuh dari langit juga gak bakal ketemu-ketemu," ujar Nora.

"Bukannya gak ketemu. Lo aja yang terlalu pemilih."

Flora tidak pernah mendapatkan orang tulus dengannya. Cantik, pintar di segala jenis mata pelajaran, juga daya tarik cowok-cowok adalah paket lengkap yang diinginkan oleh semua cewek. Tapi Flora tidak pernah mendapatkan cowok yang suka dengannya karena kepribadiannya. Semua cowok yang dekat dengannya hanya melihatnya dari segi fisik dan muka.

"Ra..." Flora menoleh. "Gimana kalau ternyata kita itu satu Bapak ya? Gimana kalau ternyata Bapak lo sama Bapak gue itu orang yang sama?" tanya Flora makin ngawur.

"Pala bapak kau!" balas Nora sambil makan keripik.

Suara yang membuat cowok-cowok berjengit mendengar percakapan tidak wajar antara Nora dan Flora itu.

"Ra lo pernah mikir gak sih kalau sebenernya kita tuh sesuatu yang disesuatukan oleh sesuatu?"

"Gila lo!! Sinting!! Enyah aja lo dari idup gue Flo!!" jawab Nora.

Oke baiklah mari kita kenalan dulu sama cewek-cewek ini:

Flora Aubie Hermawan. Cewek. Tapi kalau udah menyangkut tentang cheers dia bisa langsung semangat 45. Dia juga salah satu kandidat cewek paling pintar di sekolah. Dan jangan lupa kalau Flora ini super duper cantik. Saking cantiknya pernah ada gerombolan cowok nembak dia di waktu, tempat dan suasana yang sama. Dan semuanya ditolak hanya dengan satu kalimat saja, "Punya apa lo semua sampe berani nembak gue?"

Lain halnya Nora. Nora ini temannya. Cantik juga. Jago bela diri. Bisa dibilang cewek tomboy—yang cowok-cowok sekolah pada mikir seribu kali buat deketin Nora karena dulu mantan-mantannya habis kena jotos semua. Yang paling parah ada mantan pacarnya alias Dena yang ditemukan babak belur tak berdaya di pinggir jalan—habis kena tonjok Nora karena hampir berani nyipok bibir Nora.

"Udah napa berantemnya. Gue heran. Lo berdua padahal baru ketemu tapi sekalinya ketemu langsung berantem gini!" Nah yang satu ini namanya Vita.

Flora dulu tidak seperti ini. Dia nyaris gak punya temen kecuali Nora saat SMP karena dia merasa wajahnya kentang dan gak cakep. Tapi begitu SMA dan kenal dunia skinker. Dia mulai maskeran, pake ini dan itu hingga akhirnya Flora jadi cantik dengan rambut panjang berwarna cokelat kemerahan. Belum aja nih dia digibahin sama Kakel karena pake rok ketat ke sekolah.

"Alden sekolah di sini juga? Kok pas MOS gue gak liat ya?" tanya Nora.

"Mata lo kan bonar. Mana pernah liat cowok ganteng," ujar Vita.

Masalahnya... Flora juga tidak melihatnya. Dan Flora bodo amatlah. Yakali peduli.

Ini bukan cerita-cerita yang biasa kalian temuin di mana semua orang muji-muji pemeran utama cowok sambil berteriak histeris. Atau ala-ala cowok bad boy yang ketemu cewek polos. ENGGAK! INI BUKAN CERITA KAYA GITU! Camkan ya!

Tapi yah... Alden cakep sih. Hehe.

Bangun! Jangan halu mulu. Dia gak untuk kamu.

Alden itu sama kaya yang lainnya. Yang buat dia special karena Alden anak basket. Badannya tinggi dengan lengan berotot sedang. Kelompok Alden juga staterpack cowok-cowok SMA banget: Sepatu Vans, jam tangan hitam, baju sekolah keluar, kancing atasnya kebuka dikit, hoodie hitam atau putih beli di H&M dan terakhir motor gede yang suaranya bisa sampe ke belakang sekolah. Dan sering kalian temui di sekolah.

"Vita elap iler lo!" ujar Flora.

"SIAP!" cewek itu langsung mengelap mulutnya.

"Mereka kok liatin kita sih?" tanya Vita geer.

"Bukan liatin kita tapi liatin Flora," ujar Nora.

"Kok jadi gue sih? Emangnya gue ada salah apa?" tanya Flora.

"Karena lo cantik Flo," jawab Nora.

50% masalah hidup akan teratasi jika kamu cantik atau ganteng. Nyatanya baik saja tidak cukup kalau wajah enggak mendukung.

Terbukti dengan bantuan kata-kata pamungkas ini, "Untung cantik," kata cowok-cowok. Atau begini kata cewek-cewek, "Ganteng mah bebas." Begitulah beauty privilage bekerja. Kalau jelek? Boro-boro dibela.

"Flora anak cheerleader?" tanya Alden ketika datang.

"Iya gue. Kenapa?" jawab Flora terkesan dingin.

"Temuin gue nanti siang di lapangan. Ada yang mau gue omongin," kata Alden lalu cowok yang menyampirkan tasnya di punggung dengan satu tali di pundak kanannya dan pergi meninggalkan Flora begitu saja.

Itu maksudnya apa??

****

Jam istirahat baru saja tiba di SMA Cendana. Suara belnya terdengar dalam tiap kelas. Alden, Ben, Juven, Derrel dan Tigor memilih bermain basket di lapangan. Mereka ini bukan anak-anak basket. Hanya Alden yang anak basket. Sisanya beda-beda.

Kelima cowok ini sangat mencolok sejak masuk ke sekolah. Bahkan gerombolan anak kelas dua belas yang rata-rata laki-laki merasa terancam dengan adanya mereka. Alden yang pamornya paling tinggi di sekolah, Ben indigo, Juven murid teladan, Derrel dan Tigor yang playboy.

"Lo kenal Flora?" tanya Alden tiba-tiba.

"Siapa juga yang gak kenal Flora? Mannnnn! Dia itu turunan bidadari campur surga! Gue rasa semua cowok sini pada mau kenal sama dia," ujar Ben berlebihan.

"Tapi gue gak suka tuh. Gue gak suka dia cantik," ujar Alden pada Ben.

"Kenapa Den? Bukannya bagus kalau dia cantik?" ujar Derrel.

Alden hanya tersenyum misterius. "Iya bagus."

"Bilang aja lo gak mau kita-kita suka sama dia. Iyakan?" ujar Tigor.

"Iya emang," ujar Alden membuat ketiga cowok itu menoleh kaget. Kecuali Juven. Cowok itu tidak suka Flora. Bukan tidak suka dengan kehadirannya. Hanya saja Juven adalah cowok yang belum begitu mementingkan perempuan di hidupnya. Kecuali Ibunya.

"Kenapa?" tanya Derrel.

"Dia sukanya sama gue," ujar Alden membuat teman-temannya kebingungan.

****

"AAAAAAAAA! ADA KUNTILANAK DI KAMAR MANDI!!" teriak Ben lalu lari terbirit-birit menghampiri teman-temannya yang ada di koridor sekolah.

"KUNTILANAKNYA TERBANG WOYY!!" Ben semakin histeris.

"Ada apa sih lo Ben teriak-teriak?" tanya Alden.

"Itu! Ada kuntilanak di kamar mandi! Den... Den..." Ben mundur perlahan ketika Alden berhadapan dengannya.

"Apa?" tanya Alden galak.

"Doi suka sama lo Den!" ujar Ben.

PLAK!

Refleks Alden menampar Ben. Membuat wajah teman-temannya yang lain tambah pias.

"Kok lu nampar gue sih Den?!" ujar Ben tidak terima.

"Biar lo sadar!" ujar Alden. "Kadang-kadang gue heran Ben. Lo itu indigo beneran apa indigo gadungan sih?" tanya Alden memastikan keaslian Ben.

"Gue yang seharusnya heran sama lo! Gak cewek-cewek di sekolah ini. Gak hantu-hantu cewek di sini. Semuanya suka sama lo Den! Kan kasian cewek yang jadi pacar lo nanti. Bersaingnya gak sama asli aja. Tapi sama doi juga," balas Ben melirik takut pada yang berdiri di belakang Alden.

"Kegantengan sih lo Den," ujar Derrel.

"Kok gue geli-geli gimana gitu Rel denger lo ngomong ganteng ke Alden?" ujar Tigor.

"Kalau lo liat sesuatu lebih baik diem aja Ben. Lo bikin yang lainnya takut," ujar Juven dingin membuat Ben mengangguk. Tadi ia kelepasan.

"Gue mau cabut duluan," ujar Alden.

"Mau ke mana lo?" tanya Tigor.

"Nemuin cewek," ujar Alden. Teman-temannya menoleh penasaran. Setau mereka Alden tidak pernah meladeni cewek yang suka padanya.

****

Siang itu sesuai dengan apa yang diberitahu Alden. Flora datang ke lapangan sendiri. Tapi ia tidak melihat Alden di sana. Yang ada hanya Andre anak kelas X IPA 3 menyapanya. Dia adalah ketua kelas di kelas tersebut. Dulu ketika Flora—bisa dikatakan jelek mana ada yang menyapanya. Jangankan menyapa. Menoleh saja tidak untuknya.

"Flo ngapain di sini?" sapanya ramah.

"Nungguin orang," ujar Flora pada Andre. Cowok itu menatapnya lekat membuat Flora sedikit risi karenanya.

"Oh gitu, kalau gitu gue ke kelas ya," ujar Andre membuat Flora mengangguk.
Begitu ya jadi cantik? Disapa banyak orang. Dikenal banyak orang. Sangat menguntungkan.

"Flo," panggilan tersebut membuat Flora menoleh. Ia melihat Alden berdiri di belakangnya. Saat ini Flora tahu bahwa mimpi buruknya baru saja tiba.

Alden mengamati Flora. Keseluruhan. Bad girl. Begitulah kesan yang Alden dapat saat melihat Flora. Rambutnya tampak merah bila terkena sinar matahari. Eyeliner tebal menghiasi matanya. Rok pendek. Juga pakaian yang sangat ketat. Benar-benar bukan seperti Flora yang Alden pernah kenal.

"Kenapa lo berubah?" tanya Alden. Flora terdiam.

*****
AN: Hallo temen-temen! Gimana? Suka gak sama cerita ini?

Aku berusaha mati-matian agar cerita ini bisa dipublish dengan cepat berbarengan dengan cerita-ceritaku yang sebelahnya. Cerita ini dulu pernah hadir tapi aku ingin agar kalian semua bisa baca lagi versi barunya. Yang tentu lebih bagus bahasanya dari yang dulu. Semoga kalian tetep dukung, suka, share dan selalu setia semua cerita-ceritaku yaa<3

Spam next for next update? Jangan sider yaa

Spam up for next update?

And follow Instagram:
Aldengrahasa
Florahermawan
Poppipertiwi
Wattpadp

Kalian bisa temukan (Bot) Alden di LINE juga dengan ID: @572zupmm
botnya bisa kamu chat sama masuk grup juga kok

Add juga line info update BC Poppipertiwi: @xgv8109t yaa

Salam sayang, Poppi Pertiwi

Who excited for next chapter?

Harmony : Prolog



 



Harmony : Prolog

Dari sekian banyak orang. Tidak ada yang seperti kamu— Alden Nicholas Grahasa






Copyright by Poppi Pertiwi

Sabtu, 01 Februari 2020

Wattpad : Mozachiko by Poppi Pertiwi




Wattpad : Mozachiko by Poppi Pertiwi






Chiko Gadangga. Murid lelaki paling keras kepala dengan segudang masalah di sekolahnya. SMA Rajawali adalah tempatnya bertemu dengan seorang siswi hiperaktif, culun dan super ceria seperti Moza Adisti. Banyak hal terjadi sampai Moza bertekad membuat Chiko yang kasar suka padanya tapi Chiko selalu saja menyakiti hati Moza dengan perlakuannya.

Saat Moza sadar perjuangannya tak pernah dihargai. Moza meninggalkan Chiko begitu saja membuat Chiko sadar bahwa Moza sangat berarti dalam hidupnya.

Apa saat Chiko memintanya kembali dan berubah Moza mau menurutinya?







***




Kamis, 10 Oktober 2019

Cara Menjadi Penulis Part II by Poppi Pertiwi

HELLO WORLD!

Cara Menjadi Penulis Part II
Written by: Poppi Pertiwi


     
     Hallo kembali lagi di blog Poppi Pertiwi. Kali ini aku akan membahas lebih detail cara menjadi penulis part ke-2.

     Beberapa orang terkadang tidak suka membaca. Beberapa orang pula sangat suka. Dan sebagian orang hanya biasa saja. Dari blog ini aku ingin mengajak banyak orang untuk sadar dengan turunnya minat baca dari berbagai kalangan. Aku juga ingin mengajak generasi ke depan untuk lebih banyak berdiskusi di lingkungan sosialnya seperti berinteraksi dengan sesama juga membaca serta menulis.

     Dari kalian aku menemui pertanyaan yang sangat sering aku dengar dan dapatkan. Pertanyaan umum dari orang-orang (khususnya untuk teman-teman yang ingin menulis Novel). Seperti ini:

     "Bagaimana caranya agar bisa menjadi penulis yang konsisten dan percaya diri?"

     Menjadi penulis. Tidaklah mudah. Tidaklah rumit. Tiap-tiap pekerjaan membutuhkan apa yang disebut "Konsisten" dalam menggarap atau menciptakan sesuatu hal yang baru.

     Bagaimana cara agar konsisten menulis Novel/Cerita/Karangan kita sendiri?

     Pertama. Yang paling mendasar. Tentukan jenis, genre atau bahasan apa yang ingin kamu tulis dalam Novel/Cerita/Karangan yang ingin kamu buat. Tentukan Tema, Judul, Alur Waktu, Alur Tempat, Alur Suasana. Ciptakan kata-kata yang bisa membuat orang yang membacanya seolah ikut masuk dan merasakan apa yang sedang tokohmu alami.

    Kedua. Jangan terburu-buru. Biarkan semuanya berjalan dengan normal. Biarkan semuanya berjalan dengan biasa. Jadikan apa kata orang yang menilai tulisanmu itu untuk menjadikan dirimu menjadi yang lebih-lebih baik ke depannya. Mungkin tidak mudah. Kamu pasti akan merasa down, overthinking, menyalahkan dirimu dan merasa rasa percaya dirimu menghilang seketika saat orang-orang menilai tulisan pertamamu. Tapi percayalah, di tulisan kedua, ketiga dan seterusnya. Tulisanmu akan menjadi lebih baik. Jika kamu mau mengevaluasi diri dan belajar dari kesalahan.

     Ketiga. Untuk menciptakan suasana yang konsisten. Kamu perlu membuat agenda atau hal apa saja yang ingin kamu rangkai untuk Novel/Cerita/Karangan milikmu nanti. Tidak perlu di buku atau note. Cukup ingat dalam kepalamu saja. Bayangkan itu terjadi. Atau bisa juga kamu ketik di word laptop atau ponselmu. Lalu konsistenlah dengan apa yang ingin kamu tulis. Selesaikan satu per satu yaa.

     Keempat. Jangan terlalu dipikirkan. Menulislah ketika kamu merasa ingin. Karena menulis membutuhkan mood yang baik dan keadaan yang tenang. Tapi ada juga orang yang menulis dalam keadaan sedih atau suasana yang ramai. Semua tergantung kenyamaan. Jangan terlalu dikejar. Tapi diusahakan.

     Kelima. Percaya diri. PD sangatlah penting. Ini peran yang sangat besar dalam tulisan atau Novel yang akan kamu buat nanti.

"Ketika kamu merasa minder. Cobalah untuk berbagi dengan orang-orang yang kekurangan."
"Percaya akan kemampuanmu sendiri. Kamu juga bisa."

     Segitu aja dulu untuk blog kali ini. Senang bisa membagi tips ke kalian semua. Untuk yang baca ini jangan lupa untuk ikuti aku terus dan tunggu update-update selanjutnya. Share juga halaman ini ke teman-teman kalian ya. Ingat, percaya diri memiliki peran yang sangat besar untuk tulisanmu.

Salam, Poppi Pertiwi. 

180 DERAJAT: 5. MANTAN

5. MANTAN


"Jadi lo gak mau cerita gitu Sa?"
Perkataan Varra membuat Teresa yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mengintip dari sela-sela jarinya. Mereka bertiga sedang berada di kantin dan duduk di satu meja panjang. Letak meja itu ada di dekat pedagang yang sedang melayani banyak murid yang berebutan membeli nasi.
Rivka menatap Teresa dengan alis mengerut, bertanya-tanya. Ada apa dengannya. Varra yang ditatap Rivka pun hanya mengendikan bahunya, tidak tau. Ia benar-benar tidak tau kan? Dan juga Teresa sedari tadi tidak mau berbicara sejak masuk ke dalam kelas. Setelah keluar dari ruang kepala sekolah tentunya.
Merasa didiamkan meski ditatap oleh Teresa membuat Varra kembali bertanya, "Kalau gitu lo lo pada gak mau makan nih? Kita ke sini mau makan kan? Gue udah laper," keluh Varra. "Gue mau beli siomay. Lo berdua gak makan?"
Teresa merasa mood makannya hilang hari ini. Gimana bisa ia makan kalau pikirannya melayang-layang pada kejadian tadi? Andai ia tidak datang di jam yang sama dengan Raskal. Andai ia tidak manjat dengan Raskal. Andai kejadian tadi tidak di lihat Bu Is. Andai..., ah terlalu banyak kata andai dan Teresa tau penyesalan selalu datang terakhir.
"Gue nggak makan deh. Lo berdua aja," akhirnya Teresa membuka suara.
"Ntar awas lo laper. Inget maag lo pernah kambuh di kelas gara-gara gak makan," peringat Rivka.
"Gak deh. Lo aja berdua."
"Trus lo nontonin kita berdua makan, gitu?" tanya Varra.
"Yah, itung-itung gue ngirit."
"Ngirit-ngirit. Besok aja lo belanja baju di mall."
"Ya udah sih Var. Yuk kita beli makan. Eh Sa kita beli makan dulu ya. Lo jangan kemana-mana. Jagain ni tempat."
"Hm." hanya itu balasan dari Teresa. Perempuan itu lebih memilih diam di tempatnya sambil mengamati keadaan sekitar setelah Varra dan Rivka pergi.
Di sekolahnya hanya ada satu kantin. Dan letak kantin ini ada di belakang, tepat di kawasan kelas X. Oleh karena itu yang merajai kantin ini adalah angkatan Teresa, yaitu kelas XII.
Begitu pandangan Teresa tertuju pada pintu kantin sekolah, tiga cowok baru saja tiba di kantin dengan wajah yang... lumayan terlihat kesal. Tapi itu hanya asumsi Teresa semata. Begitu pandangan Teresa dan Beling bertemu, cewek itu mengalihkan pandangnya.
Cowok itu, mantannya mempunyai sejuta rahasia yang Teresa sendiri tidak pernah ketahui dan pahami. Dulu, sewaktu Teresa masih pacaran dengannya, cewek itu bahkan merasakan bahwa ia tidak mengenal Beling sama sekali yang notabene adalah pacaranya.
"Hai, Sa," sapanya ketika cowok itu berhasil menghampiri Teresa. Dan Teresa tidak bisa bohong pada dirinya sendiri kalau ia selalu menyukai cara Beling tersenyum. "Sendiri?"
"Nggak," katanya dengan nada dijutek-jutekkan. "Sama Varra sama Rivka."
"Gue boleh duduk?"
Teresa ingin menolaknya namun cowok itu sudah lebih dulu duduk di depannya. Yogi dan Saka sudah mengungsi di satu meja dekat mereka. Kedua cowok itu tampak memesan es teh poci di dekatnya. Terus terang, ketika mengingat bagaimana brengseknya seorang Beling membuatnya Teresa kembali merasa muak.
"Sa-"
"Lo ngapain sih duduk di sini?!" tanya Teresa galak.
"Ya kenapa? Lagian boleh-boleh aja kan?" Beling berkata santai. "Gak mau manggil aku Gama lagi?"
Teresa hanya diam. Lebih memilih mendiamkannya mungkin keputusan yang tepat. Nama cowok itu sebenarnya adalah Gamanio Nicholas Martanta. Namun sejak dulu, banyak orang yang memanggilnya Beling atau menyeletuk nama Beling untuknya dan sampai sekarang nama itu terbukti terkenal di mana-mana. Bukan hanya di sekolah ini tapi di kampus dan di sekolah dekat sini cowok itu juga dikenal sebagai sosok yang paling sering dibicarakan.
Oh ingatkan Teresa bahwa Raskal juga.
"Gak usah pake aku-kamu. Basi tau gak?"
"Loh emang kenapa? Dulu waktu kita pacaran kita ngomong pake aku-kamu."
"Itu dulu. Sebelum gue tau gimana brengseknya lo," kata Teresa mencengkram erat-erat roknya yang ada di bawah meja. Sengaja ia menekankan kata brengsek di ucapannya agar Beling sadar betapa tak sukanya Teresa pada cowok itu.
"Oke," Beling memberi jeda untuk mengambil napas sebentar. "Kayanya kita ganti topik aja. Lo gak makan?" tanya Beling, halus. Mencoba mengalihkan pembicaraan yang sempat diungkit Teresa tadi. Namun, Teresa masih diam. Menatap Beling dengan seribu satu rasa benci yang ia tanam pada dirinya sendiri untuk cowok yang ada di hadapannya.
"Lo mau tau jawabannya?" tanya Teresa sambil berdiri. Sumpah, berlama-lama di sini apalagi bersama Beling membuatnya jengkel. "Jawabannya. ENG GAK," kata Teresa lalu pergi meninggalkan Beling.
Rivka dan Varra yang menyaksikan itu dari jauh hanya bisa diam. Tidak mau ikut campur. Beling menatap Teresa dengan pandangan yang hanya dirinya sendiri yang bisa mengerti arti tatapan itu.
Bersalah dan menyesal.
****


 Makasi^^       


180 DERAJAT: 4. ADA APA?

4. ADA APA?

"Eh muka lo kenapa kusut gitu Kal?" tanya Douglas ketika Raskal berjalan menuju ke arah pertigaan koridor kelas X dan XI.
Ada 3 alasan mengapa teman-temannya berdiam di sini. YANG PERTAMA, mereka di sini mau MALAK uang jajan adik kelas dengan embel-embel senior. YANG KEDUA, mau CAPER ke adik kelas. YANG KETIGA, males ke kantin karena sedang ramai.
Lagi pula, siapa yang tidak takut dengan badan besar Douglas? Baru saja mereka, alias adik kelas yang keluar dari kelas itu hendak menuju ke kantin, mereka langsung mengambil jalur pintas agar tidak melewati Douglas, Verrel, dan Gathenk. Sebagian dari mereka pun memilih masuk kembali ke dalam kelas. Benar-benar payah, pikir Raskal.
"Lo kaya habis kena kurang point dari Pak Ahmad," kata Gathenk. "50 apa 100 Kal?" tanyanya.
"Berisik lo Babi," kata Raskal spontan.
"Gue bukan Babi," gerutu Gathenk.
"Ngejawab lagi lo!" seru Raskal tiba-tiba galak.
"Berantem-berantem aja lo berdua," Verrel melerai Raskal dan Gathenk. Gathenk lantas memasang wajah tak berdosanya.
"Najis muka lo gak usah sok imut Thenk," kata Douglas.
"Adek salah apa Bang Raskal?" kata Gathenk bersembunyi di belakang badan Douglas. Dengan alaynya dia mengerjapkan mata secara lambat-lambat pada Raskal yang suasana hatinya sedang panas. "Aku tuh gak bisa diginiiinnnnnn," katanya lagi dengan nada di lebay-lebay-kan yang justru terdengar sangat aneh untuk seorang cowok.
"Lo kaya meme-meme di Instagram," ujar Verrel jijik. "Lo cowok. Jangan melambai gitu ah."
"Gue cuman pengin merubah suasana. Kayanya tuh cowok taksiran gue lagi panas hati."
"Jadi lo naksir Raskal?" kata Douglas menoleh ke belakang, raut wajahnya tampak jelas benar-benar jijik.
"Kalau gue cewek sih iya," jawab Gathenk. "Mungkin kalau gue lahir kembali ke kehidupan nanti jadi cewek, gue bakalan naksir Raskal. Cowok aja panes dingin ngeliat Raskal."
"Sabar Douglas, untung Gathenk temen lo," kata Douglas pada dirinya sendiri. Gathenk yang mendengar itu meringis pelan.
"Gue bercanda kali. Tapi serius. Yang, 'cowok juga panes dingin kali ngeliat Raskal' nah itu bener."
"Wei-wei ada yang mau lewat. Waspada-waspada. Gue udah laper," kata Douglas.
"Lo sih makan aja Glas. Apa-apa makan. Apa-apa makan," cibir Verrel. "Pantes lo gak kurus-kurus."
"Yaiyalah. Makan itu nggak ada duanya. Makan itu juga ibadah tau. Lagian lo mau mati gara-gara gak makan?"
"Sejak kapan makan itu ibadah?" bisik Gathenk pada Verrel membuat cowok itu mengendikkan bahunya, tak peduli.
"Eh gue denger," toleh Douglas ketika ia mulai menghadang koridor sendirian. Raskal terlihat berdiri di sebelah Verrel dengan menatap lurus pada Douglas yang sebentar lagi akan menangkap mangsanya.
"Gak ikutan lo Thenk? Lumayan buat beli kartu wifi.id," kata Verrel menggoda Gathenk.
Mendengar itu Gathenk langsung semangat. "Ikut-ikut gue. Kalau itu sih gak nolak!" ujarnya semangat.
Padahal kalau Gathenk mau, Gathenk bisa ke rumah Raskal karena di rumah Raskal ada fasilitas wifi yang selalu cowok itu gunakan untuk bermain sosial media atau game online. Contohnya DOTA seperti permainan kesukaan Gathenk atau Get Rich seperti permainan yang Verrel suka. Selama dihukum, Raskal hanya bisa menghilangkan jenuhnya dengan PS kesayangannya.
"Eh bagi duit dong. Lima ribu," kata Gathenk pada seorang cowok yang baru saja akan melewati mereka. "Cepetan bagi. Buset dah lo lama bener," paksanya. Cowok itu akhirnya memberi Gathenk uang lima ribu.
"Nah gini dong. Jadi kan lo boleh lewat," katanya menepuk-nepuk punggung cowok itu selama tiga kali, sok akrab. Cowok itu akhirnya berlalu dari mereka setelah memberi uang.
"Cari mati tuh orang," kata Raskal ketika melihat Teguh berjalan mendekati mereka. Teguh merupakan satu spesies dengan Erwin cuman bedanya cowok itu beda kelas dengan Raskal sehingga kesempatan untuk 'memperbudak' cowok itu hanya sedikit.
"Eh Teguh sini lo!" kata Douglas dengan suara yang sengaja diseram-seramkan. Teguh yang baru sadar di depannya ada Douglas, langsung berputar balik dan ingin lari darinya namun Douglas sudah menarik cowok itu dan membawanya mendekat.
"Main kabur-kabur aja. Mau ke kantin kan lo?" tanyanya. "Woi gue ngomong sama lo! Jangan dikacangin! Tuli lo?"
Teguh meneguk ludahnya, "Iya gue mau ke kantin," cicit Teguh.
"Nah berhubung lo mau ke kantin. Beliin gue makanan gih sono. Apa aja terserah yang penting gue makan. Bakso juga boleh. Dibungkus tanpa kuah."
"Tapi gue cuman bekel 10 ribu."
"Ya itu masalah elo. Pokoknya gue gak mau tau. Lo harus beliin gue itu. Lima menit lo gak balik-balik, gue robohin itu warung Nyak lo."
"E-eh jangan," kata Teguh panik lalu menghela napas. Alamat ia tidak makan hari ini. Douglas itu kalau ngacem emang suka gak main-main. "Iya-iya gue beliin," katanya lagi.
"Ya udah sana lo," kata Douglas mendorong badan Teguh. "Sana!" bentak Douglas membuat Teguh merasa mengecil seperti kurcaci lalu ia mengangguk dan cepat-cepat menuju ke kantin.
"Nama doang Teguh, digertak aja takut!" ucap Douglas.
Gathenk tertawa, "Lo tuh Glas. Emangnya Nyak dia punya warung?"
"Punya. Deket rumah dia. Itu tuh yang ada di kiri jalan. Namanya warung Bu Ani."
"Untung gak warung Bu Sabar," kekeh Verrel.
"Waktu gue jemput adik gue yang lagi main layangan di lapangan, gue liat dia bantuin Nyaknya di warung. Lagi nyuci piring," kata Douglas dengan kedua tangan di pinggang.
"Lo bertiga gak kantin?"
"Gue sih gimana si Raskal. Gue gak laper-laper banget," kata Gathenk melirik Raskal yang ternyata tengah melamun.
"EH TERESA!" teriak Douglas membuat Raskal menoleh dengan secepat kilat. Namun detik berikutnya wajah laki-laki itu kembali datar karena sadar telah dibohongi oleh temannya.
Douglas, Gathenk dan Verrel lantas tertawa bersama. "Ketauan ni yeee lagi mikirin Teresa," Douglas memberi senyum paling menyebalkan yang pernah Raskal lihat. "Tuh adik kelas gue emang paling montok banget dari dulu," katanya lagi dengan suara tok berlebihan di kata montok.
"Eh inget lo masih kelas XII," kata Ghatenk.
"Yang penting gue pernah jadi senior lo-lo pada."
Gathenk melipat tangannya di dada. "Kalau diinget-inget geli banget gue dulu manggil Douglas pake Kakak. Kak Douglas. Kak Douglas."
"Lo kan dulu takut sama gue," kata Douglas dengan alis naik turunnya. "Cuman ni curut aja yang berani sama gue," katanya menunjuk Raskal.
"Jangan lupain dia juga," kata Raskal. Mata cowok itu sudah tertuju pada seorang lelaki yang sedang berjalan di tengah-tengah dua temannya. Namanya Beling. Rumor yang beredar selama ini adalah bahwa cowok itu tengah menanam tanaman Ganja di rumahnya. Pernah ketauan membawa sekotak tembakau ke sekolah. Dan yang terakhir, nama cowok itu akan dicatat buku kelulusan sekolah sebagai berandalan kelas berat di SMA Nusantara. Berdampingan dengan nama Raskal.
"Beling," sebut Raskal.
"Eh ada Yogi sama Saka juga tuh," kata Gathenk. Sekarang ketiga orang itu menatap Raskal, Douglas, Verrel dan Gathenk. Para cowok biasanya akan tersinggung ditatap seperti itu oleh orang yang jenis gendernya sama dengan mereka.
Sejak kelas X. Kelompok Raskal dan Beling tidak pernah bisa akur. Rasa selalu ingin 'diatas' selalu menjadi perkara mereka. Saat-saat di mana ego sedang tinggi-tingginya memang menguasai masa-masa remaja. Apalagi SMA.
"Kenapa lo berempat ngeliat gue kaya gitu?" tanya Beling ketika ia sudah berada di dekat keempatnya. Laki-laki itu dengan angkuh menatap Raskal yang menaikan sebelah alisnya. "Merasa sok jagoan?" tanya Beling.
"Jangan di sini Anjing," desis Raskal pelan, menahan dirinya untuk tidak menerjang Beling sekarang juga.
"Jaga tuh mata," kata Beling. Beling akhirnya berjalan meninggalkan tempat itu. Keempatnya berdiam menatap cowok itu dengan pandangan geram. Raskal yang sudah tidak bisa menahan dirinya langsung saja berjalan menuju Beling dan mendorong Beling dengan sebelah tangannya ke depan.
"Kal," kata Verrel kaget dengan apa yang dilakukan Raskal. Kejadian itu begitu cepat.
"Maju lo!"
Douglas menggertakkan giginya. Ia tau Beling memang sengaja memancing kemarahan Raskal. Terlebih lagi Raskal memang mudah terpancing.
"Ling dia nantang!" kata Saka.
"Habisin aja Ling," kata Yogi, menimpali perkataan Saka.
"Lo pikir gue takut?" kata Raskal.
"Apa maksud lo?" tanya Beling. Badan cowok itu sudah berada di depan Raskal.
"Seharusnya gue yang nanya. Apa maksud lo ngomong itu?" tanya Raskal. "Lo pikir gue sama temen-temen gue takut?"
Akhirnya Douglas memilih maju, bertindak. Kalau ia tidak segera bertindak untuk melerai sudah pasti mereka akan dikerumuni banyak murid. Dan terus terang Douglas malas. Terlebih lagi hanya karena masalah sepele.
"Buruan lo cabut," kata Douglas pada Beling. "Eh, cabut!" suruhnya lagi.
"Douglas!" seru Raskal marah.
"Lo diem," tunjuk Douglas pada Raskal yang terlihat geram. "Buruan cabut sana. Jangan lewat-lewat sini lagi lo bertiga," katanya membuat Beling akhirnya mengalah. Kalau bukan saja karena Douglas memiliki banyak teman alias seniornya yang lebih ganas dari mereka, sudah pasti Beling akan meladeni Raskal. Akhirnya Beling memilih pergi bersama dengan Yogi dan Saka.
Setelah itu Raskal tanpa aba-aba langsung menarik kerah seragam Douglas. Satu tangannya hendak menonjok wajah Douglas namun kepalan tangan itu jadi melayang di udara. Wajah Douglas tampak datar sedatar-datarnya.
"Gak jadi mukul gue?" tanyanya membuat Raskal mengembuskan napas keras lalu menghempaskan kerah baju itu. Dia tidak bisa melakukan itu. "Jujur lo kenapa Kal?" tanyanya. Kini Douglas, Verrel, dan Gathenk menatap Raskal penuh tanda tanya.
Raskal masih tetap diam. Ketika melihat Teresa, Rivka, dan Varra yang sedang berjalan jauh di depan membuat Raskal berdecak pelan.
"Gue disuruh belajar Fisika selama 3 bulan sama Teresa."
****
AN: So, ini Raskal dan Teresa. Menurut kalian?
Boleh bayangin sendiri, sihBuat yang besok ulangan semangat ya!



 Buat yang besok ulangan semangat ya!






       

Btw, Ini aku. Kali aja ada yang belum tau. Kalian bisa kontak Instagram: Poppipertiwi untuk more info yaa.

180 DERAJAT: 3. BELAJAR BERSAMA?

3. BELAJAR BERSAMA?
BRAK.
Suara gebrakan meja itu membuat keduanya tersentak kaget.
"Jadi katakan kenapa kalian terlambat dan manjat tembok belakang sekolah? Kalian tau itu melanggar peraturan sekolah!"
Keduanya yang diomeli oleh kepala sekolah wanita mereka hanya diam. Baik Raskal dan Teresa sama-sama tidak mengeluarkan suara. Mereka seperti dijebak. Di depan mereka ada tiga orang yang lebih tua dari mereka. Dua guru BK dan kepala sekolah. Bu Is dan Pak Ahmad berdiri di samping kepala sekolah mereka yang sedang duduk di kursi.
"Bu kita cuman terlambat. Lagian lebih baik terlambat ke sekolah daripada bolos," kata Raskal yang sedang duduk santai seperti ia duduk di warpeng. Warung pengkol sekolah yang merupakan tempat tongkrongan bagi murid-murid tipe seperti Raskal.
"Diem kamu! Saya belum nyuruh kalian ngomong!"
Raskal akhirnya diam. Ia melirik Teresa yang sedang sibuk meniup-niup poni panjangnya ke atas. Kebiasaan yang sudah Raskal hafal. Oh bukan Raskal saja tapi kebanyakan murid Nusantara suka melihatnya.
"Bisa gak kalian sehariiii aja gak bikin saya pusing?" tanya kepala sekolahnya itu heran. "Kamu juga Teresa. Cewek tapi kelakuannya kaya cowok," tudingnya pada Teresa.
"Bu sekarang saya ada ulangan Kimia. Kalau nilai saya tu--"
"Nyusul!"
Teresa yang dibentak mengalihkan pandang. Ia lebih memilih menatap kalender yang ada di sampingnya. Coba saja Bu Is tidak melihat mereka, mereka pasti tidak akan ada di sini dan ia juga tidak akan terjebak dengan Raskal.
"Atau kalian mau di DO?"
Teresa dan Raskal refleks langsung menatap kepala sekolahnya dengan pandangan kaget.
"Bu apa pun asal jangan DO. Saya janji bakalan berubah," kata Teresa.
"Kamu itu. Janji-janji aja. Sampe sekarang gak berubah-berubah. Kelakuan kamu tetep sama."
"Bu. Ibu boleh ngehukum kita apa aja tapi jangan DO Bu. Kita udah kelas 12," ujar Raskal.
"Tapi sifat kalian bukan sifat anak kelas 12. Seharusnya kalau kalian merasa sudah kelas 12, kalian bisa mikir. Mana yang baik dan mana yang gak baik."
Raskal menatap Bu Is yang berdiri di sebelah Pak Ahmad. Guru BK itu menghela napasnya.
"Bu tolong dipertimbangin. DO gak menyelesaikan masalah," kata Bu Is. "Lagian kita bisa hukum mereka."
"Bener Bu. Mereka sebentar lagi akan ujian. DO bukan solusi yang bijak," kata Pak Ahmad.
"Kalau dihukum saja mereka nggak bakalan jera," kata kepala sekolahnya. "Lagian mereka sudah banyak melanggar peraturan sekolah. Sudah banyak catatan tentang kenakalan mereka berdua."
Peraturan dibuat memang untuk dilanggar. Bagi Raskal memang seperti itu. Lagian bukan hanya mereka berdua saja yang sering melanggar. Banyak murid yang sering melanggar. Banyak murid yang sering terlambat datang ke sekolah. Hanya saja mungkin mereka beruntung lolos dari guru BK.
Kepala sekolah mereka mengetuk meja dengan jari telunjuknya, menimbulkan suara ketukan yang mengisi ruangan hening itu. Raskal dan Teresa tau wanita itu sedang merencanakan sesuatu.
"Nilai kamu sering jeblok kan Raskal?" tanya guru itu membuat Teresa mengerutkan kening sementara Raskal mengangguk pelan. "Pelajaran apa yang gak kamu suka?"
"Fisika Bu," jawabnya jujur.
"Kalau gitu kalian pilih. DO atau belajar kelompok bersama," katanya membuat Teresa dan Raskal sama-sama mengerutkan alis mereka.
"Bu!" seru keduanya.
"Tinggal pilih," ucapnya. "DO atau kerja kelompok. Selama tiga bulan kalian harus belajar kelompok bersama. Terserah tempatnya di mana. Terserah berapa kali dalam seminggu. Dan minggu ini Ibu harus dengar nilai kalian membaik di mata pelajaran Fisika."
"Bu, jangan kerja kelompok. Saya gak mungkin kerja kelompok sama dia," kata Teresa melirik Raskal.
"Saya juga gak mau Bu. Mending saya les privat," ujar Raskal.
"Ya udah les privat aja lo sana. Gue juga gak mau capek-capek kali."
"Sekarang kalian pilih. DO atau belajar berdua. Kalau kalian pilih DO. Hari ini juga kalian akan dipulangkan ke rumah masing-masing."
Keduanya mendengus.
3 bulan? Yang benar saja! Bisa-bisa kepala Teresa pecah.
"Saya gak mau di DO Bu," kata Raskal tegas. Cowok itu sudah duduk tegak dengan benar. "Saya pilih kerja kelompok 3 bulan."
***
"LO TUH!!"
"Aduh-aduh!"
Raskal menjauhkan dirinya ketika Teresa memukul-mukul lengannya. Mereka baru saja keluar dari ruang kepala sekolah.
"Lo tuh kenapa sih?"
"Gue gak mau kerja kelompok sama lo!"
"Terus lo pikir gue mau?"
"Tapi kan-"
"Emang lo mau di DO?"
Teresa diam namun raut wajahnya tertekuk. Benar-benar kesal sekaligus tak bisa berbuat apa.
"Lagian gue gak mau kenal masalah lagi sama orangtua gue."
"Trus seminggu ini nilai Fisika kita harus bagus? Yang bener aja!" Teresa melipat tangannya di dada. Matanya memandang ke arah depan sementara Raskal menatap perempuan di sampingnya dengan pandangan datar. "Mana hari Rabu gue ulangan Fisika."
"Lo pikir lo aja yang ulangan? Hari Sabtu juga gue ulangan Fisika," kata Raskal. "Gak ada cara lain. Cuman itu satu-satunya."
"Kenapa lo gak les privat kaya yang tadi lo bilang di dalem?"
"Gue lagi dihukum. Semua fasilitas kecuali motor gue disita," kata Raskal. "Kenapa gak lo aja?"
Teresa mengusap wajahnya. "ATM gue diblokir," ujarnya.
Keduanya saling pandang. Teresa mengerang kesal.
"Terus gimana?"
"Gak ada cara lain."
"Kerja kelompok gitu? Lo sama gue?" ucap Teresa sambil menunjuk dirinya membuat Raskal mengangguk.
"Besok. Gimana?"
"Besok?!"
"Sialan jangan kenceng-kenceng," protes Raskal.
"Lo yakin besok?"
"Menurut lo?"
Teresa memutar kedua matanya. "Oke besok. Di mana?"
"Tempatnya lo yang atur."
"Oke gampang," kata Teresa namun masih wajah kesalnya terlihat. "Kalau gak gara-gara diancem DO. Gue gak bakalan mau!"
"Ya terserah. Inget besok dan lo jangan kabur."
"Hm."
Teresa meninggalkan Raskal, melewati sebuah lorong lalu melihat sebuah kaca panjang yang bertuliskan "Sudah rapikah saya?" di atas kaca itu. Sejenak Teresa diam. Pandangannya tertuju pada pantulan dirinya.
Sangat tidak rapi.
****



fm: PoppiPertiwiTwitter: PoppiPertiwi_